Kata "Big" sering dikaitkan dengan hal-hal yang sangat besar dan hebat sehingga dijadikan nama benda, judul film, dan lain-lain. Ada jam besar "Big Ben" di Kota London, Inggris. Konon, ada binatang sangat besar "Bigfoot" di suatu hutan. Dan, entah kebetulan atau tidak, film komedi "Big Daddy" sukses pada 1999, demikian pula film animasi 3D "Big Hero 6" pada 2014. Awal terbentuknya alam semesta disebut "Big Bang". Dan tiga tahun terakhir ini muncul istilah populer, "Big Data" di dunia bisnis dan teknologi.
Big Data merupakan istilah untuk data elektronik, yang tidak hanya sangat besar, tapi juga sangat cepat berubah, dan sangat banyak jenisnya. Big Data menjadi sangat populer di jagad teknologi setelah miliaran manusia menggunakan internet untuk berbagai kebutuhan. Sangat banyak data berkeliaran dan tersimpan di komputer-komputer di internet berupa teks, gambar, suara, video, animasi, blog, buku, cuaca, posisi tempat di bumi, suhu, penerbangan, belanja di supermarket, dan lain-lain. Perusahaan "Super Big" pengguna Big Data, antara lain Facebook, Google, Twitter, dan Yahoo.
Banyak orang membutuhkan pengolahan Big Data, antara lain untuk mengetahui topik yang sedang hangat saat ini di Twitter, mencari teman lama secara cepat melalui Facebook, dan lain-lain. Perusahaan perlu mengolah Big Data untuk pengambilan keputusan bisnis yang harus cepat. Misal, untuk mengetahui kebiasaan dan kesukaan pelanggan tanpa harus bertanya, mengetahui selera pembaca portal berita di web untuk disesuaikan dengan iklan yang ditampilkan, mengatur perjalanan pesawat agar tidak delay, mengendalikan wabah penyakit, dan sebagainya.
Untuk mengolah Big Data menjadi informasi yang lebih berguna, perlu program "big" yang artinya bukan program "biasa". Jika data konvensional selama ini hanya berisi teks dan angka biasa seperti data keuangan, maka cukup diolah dengan database biasa pula, misal MS Access, MS SQL Server, dan lain-lain yang selama ini hanya untuk mengolah data terstruktur. Big Data tidak dapat diolah hanya dengan program database konvensional yang disebut SQL (Structured Query Language) atau RDBMS (Relational Database Management System). Big Data membutuhkan program database yang mendukung NoSQL (Not only SQL), yang mampu mengolah data tidak terstruktur.
Dalam bahasa Inggris, Big Data terkait dengan 3V, yakni Volume (ukuran data sangat besar), Velocity (kecepatan transfer/perubahan data sangat tinggi), dan Variety (variasi atau jenis data sangat banyak). Ada juga yang menjadikan 4V, ditambah Value, karena sangat besarnya nilai bisnis yang dihasilkan, sehingga menjadi besar pula peluang kerja bagi profesional di bidang pemrograman komputer, pengolahan data statitisk, dan Cloud Computing. Kebutuhan SDM di bidang Big Data pada 2015 ini diproyeksi sekitar 4,4 juta orang. Di Amerika saja butuh 190.000 orang pada 2011 dan akan tambah butuh lagi 490.000 pada 2018 (Sumber: McKinsey Global Institute, 2011).
Untuk mendalami Big Data, program dan istilah berikut ini perlu dipelajari, meskipun tidak harus semuanya, yakni sistem operasi Linux, Apache Hadoop, Apache HBase, MongoDB, MapReduce, HDFS (Hadoop Distributed File System), bahasa pemrograman Java, Hive, Pig, Python, R, dan Cloud. Teknologi Cloud dibutuhkan karena Big Data perlu didukung server yang kuat dengan tempat penyimpanan besar dan mudah dikembangkan. Cloud telah lebih dahulu berkembang dan tersedia luas dengan biaya lebih murah daripada tidak menggunakan Cloud.
Untuk menguasai berbagai produk teknologi terkait Big Data dan Cloud tidak lah sulit dan mahal karena sebagian besar tersedia free atau Open Source dan dokumentasinya juga tersedia bebas di internet. Jadi, tunggu apa lagi?
Rusmanto
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri
Sumber : depoknews.com/big-data-apa-itu/
0 Comment: