UPACARA BALIMAU KASAI

ARMILA JAYANTI/PBM/FB 

Upacara Belian, adalah pengobatan tradisional.
Upacara adat belian adalah upacara tolak bala yang umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit.
1.      Asal-usul
Suku Petalangan adalah salah satu suku terbesar di Riau Suku ini memiliki kebudayaan yang unik, salah satunya adalah upacara adat belian.Upacara ini memiliki banyak tujuan
seperti menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan mengobati orang yang sulit melahirkan.Di beberapa desa di Riau, orang-orangtua masih menjalankan upacara ini, meskipun sudah ada sistem penyembuhan modern. Hal ini merupakan salah bukti kesetiaan mereka akan tradisi leluhur (Muchtar Luthfi, 1975 : 112-113).
Dalam sejarah masyarakat Melayu Riau, Suku Petalangan dikenal sebagai suku yang memiliki banyak adat istiadat.Contohnya adalah upacara belian yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan.Upacara ini merupakan ajaran leluhur agar manusia menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan makhluk yang terlihat maupun tidak.Upacara ini juga bertujuan agar manusia bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan mereka.
Belian menurut bahasa orang Petalangan diambil dari beberapa arti. Menurut mereka, belian adalah nama kayu yang keras dan tahan lama. Kayu belian ini pada masa lalu biasa digunakan untuk bahan membuat ketobung, yakni gendang untuk mengiringi upacara adat.Kayu ini juga baik untuk bahan membuat bangunan rumah. Menurut kemantan (orang yang dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib), kayu belian disebut juga dengan kayu putih sangko bulan yang berarti kayu tempat tinggal jin yang baik (Nizamil Jamil, 1988: 25).
Kata belian juga dipercaya berasal dari kata bolian yang berarti persembahan.Belian juga dianggap berasal dari kata belian yang berarti budak atau hamba sahaya.Dari arti-arti tersebut, secara umum, upacara belian dapat diartikan sebagai upacara persembahan kepada Tuhan agar diselamatkan dari marabahaya dan mengharap kesembuhan serta perlindungan dari beragam penyakit dan gangguan makhluk gaib yang jahat.
Berdasarkan arti di atas, upacara belian pada umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit.Meskipun demikian, upacara belian biasanya digelar terpisah berdasarkan salah satu dari tujuan di atas (Tenas Effendy, 2001 : 32).
Upacara adat belian terdiri dari dua macam, yaitu belian kocik (kecil) atau biaso (biasa) dan belian bose (besar) atau polas (khusus).Belian biaso adalah upacara yang digelar untuk orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan.Selain itu, juga untuk orang yang terkena wabah penyakit atau mendapat gangguan binatang buas.Namun, jika upacara belian biaso tidak mampu menyembuhkan penyakit tersebut, barulah diadakan belian bose atau polas. Dengan kata lain, belian biaso dan polas intinya adalah sama, hanya waktu digelarnya saja yang berbeda (Nizamil Jamil, 1988: 26).
2.      Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Upacara adat belian digelar pada malam hari.Malam dianggap waktu yang tepat untuk bedoa dan memohon kepada Tuhan.Selain itu, pada malam hari biasanya seluruh warga suku dapat berkumpul bersama karena jika siang hari mereka bekerja di hutan.
Upacara ini biasanya digelar di rumah orang yang sakit atau di rumah adat yang besar. Selain itu, pemangku adat dibantu oleh warga akan membuat rumah-rumah kecil di depan rumah tempat upacara sebagai salah satu syarat upacara.   
3.      Pemimpin dan Peserta Upacara
Upacara adat belian dipimpin oleh kemantan atau mantan (orang yang ahli mengobati penyakit). Selain karena ahli, seorang kemantan dipilih karena ia dianggap dapat menjalin komunikasi dengan makhluk gaib. Selama upacara berlangsung, Kemantan akan berhubungan dengan makhluk gaib yang baik dan meminta mereka ikut hadir untuk membantu menyembuhkan penyakit pasien.
Upacara belian biasanya dihadiri oleh seluruh anggota suku atau oleh keluarga yang sakit dan sanak kerabat mereka.Meskipun demikian, upacara adat belian melibatkan warga suku secara keseluruhan karena upacara ini adalah upacara kolektif (bersama).
4.      Peralatan dan Bahan
Upacara adat belian memerlukan beragam alat dan bahan, antara lain:
         Puan, rangkaian daun kelapa muda (janur) yang dihiasi bunga-bungaan;
         Dame (damar), obor yang terbuat dari damar yang ditumbuk halus;
         Dian, lilin besar yang dibuat dari sarang lebah yang diberi sumbu kain pintal dan dilekatkan pada tempurung kelapa;
         Gonto, genta dari kuningan;
         Pending, kepala ikat pinggang kemantan dari perak atau kuningan;
         Kain kesumbo, kain warna merah untuk tudung kemantan;
         Destar atau tanjak, ikat kepala kemantan;
         Mangkuk putih, tempat meracik limau dan cincin tanda orang minta obat;
         Cincin perak milik orang yang sakit;
         Padi;
         Mayang, daun kepau (sejenis palem);
         Kayu gaharu untuk dibakar;
         Pisau kecil;
         Ketitipan, berbagai jenis jamur dari pucuk daun kepau;
         Jeruk limau;
         Sanding dan lancang, sejenis perahu yang terbuat dari pelepah kelubi (pohon asam paya);
         Balai pelesungan, rumah-rumahan tidak beratap dari pelepah kelubi;
         Bokal, sesaji yang dibungkus daun pisang;
         Mondung (ayam);
         Hidangan yang terdiri dari nasi kunyit, panggang ayam, telur rebus, gulai ayam, dan daging hewan lain;
         Balai induk, bangunan khusus yang dibuat di depan rumah tempat upacara digelar;
      Tikar pandan putih.
Seluruh perlengkapan dan bahan di atas disiapkan oleh dua orang khusus yang disebut tuo longkap dan pebayu.Selain betugas untuk hal itu, pebayu juga bertugas memeriksa semua perlengkapan dan bahan-bahan.Jika belum lengkap, maka pebayu harus mencari kelengkapannya sebelum upacara dimulai. Penyiapan segala perlengkapan dan bahan-bahan upacara juga akan dibantu oleh warga suku dan anak iyang, yaitu orang yang pernah minta tolong kepada kemantan, baik untuk berobat maupun keperluan lainnya.
Jika dalam keadaan darurat, perlengkapan dan bahan-bahan di atas diperbolehkan dibuat secara sederhana. Keadaan darurat itu antara lain seperti banyak orang yang sakit atau serangan binatang yang mengganas sehingga tidak ada orang yang berani ke hutan mencari pelengkapan (Koentjaraningrat, 1970: 22-23).
5.      Proses Pelaksanaan
Proses pelaksanaan ini terdiri dari tiga tahap yaitu proses persiapan, pelaksaandan penutup
a.       Persiapan
Persiapan ini dimulai dengan musyawarah antara pemangku adat dengan keluarga pasukanorang yang akan diobati. Persiapan lainnya yaitu menentukan siapa-siapa yang akan pergi kehutan mengambil kayu mencari rotan, pucuk kepau atau pelepah .mereka ini akan dipimpin oleh dukun yang mngetahui mantra kayu agarupacara nantinya tidak diganggu oleh makhluk gaib yang jahat.
b.      Pelaksanaan
Pada pagihari, dengan dipimpin oleh dukun, beberapa oraqng mengambil kayu di hutan untuk ritual beramu.Kayu dipilih yang kayunya lurus, tidak cacat, bukan kayu tunggal, tidak dipalut akar, tidak dihimpit kayu lain, tidak sedang berbungan atau berbuah, dantidak ditanda oranglain.
Pada sore harin pebayu menyampaikan hajat pengobatan kep[ada kemantan. Keduanya laluberbincang sembari memakan sirih dan disaksikan oleh orang banyak. Kemantan lalu berdoa dan meminta bantuan doa kepada yang hadir agar nantinya upacara dapat brjalan lancer.
c.       Penutup
Pada tahap kemantan mengambil perapian dengan mengusap kemenyanke wajahnya dan mengelilingi asap itu. Ritual ini adalah untuk menembalikan kesadaran kemantan.Dengan ritual ini upacara belian dianggap selesai.
6.      Doa-doa
Dalam upacara adat belian terdapat beberaqpa doa yang dibaca, doa memohon izin menebang kayu, doa meminta obat, dan doa persembahan. Doa-doa tersebut dibaca menggunakan bahasa asli Suku Petalang.
7.      Pantangan atau Larangan
Upacara ini memiliki pantangan atau larangan yang harus dihindari, antara lain:
         Upacara tidak boleh digelar pada siang hari
         Upacara tidak boleh digelar pada bulan puasa, kecuali untuk menolak wabah penyakit ganas atau binatang buas yang tiba-tiba mengamuk.
         Upacara tidak boleh di gelar pada malam Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha
8.      Nilai-nilai
Upacara adat belian mengandung nilai-nilai kehidupan yang positif, yaitu :
         Kebersamaan
         Sakralitas
         Peduli terhadap lingkuan
         Pelestarian tradisi leluhur (Budisantoso, 1986 :21-26).
KESIMPULAN
Upacara adat belian adalah bukti keterikatan orang-orang Petalangan terhadap ajaran leluhur. Oleh karena itu, wajar upacara ini tersa mistik dan penuh dengan perlengkapan serta proses yang rumit. Dalam upaya melestarikan tradisi leluhut, ritual ini penting untuk dijaga karena memiliki nilai-nilai yang luhur.
DAFTAR PUSTAKA
Budisantoso, dkk.1986. Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Riau: Pemerintah Daerah Provinsi Riau.
Effendy, Tenas. 1980. Upacara Belia. Riau: Bagian Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan.
Jamil, Nizamil, dkk. 1988. Upacara Tradisional Belian Di Daerah Riau. Riau: Bagian Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan.
Koentjaraningrat. 1970. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Djakarta: Djambatan.
Lutfi, Muchtar, dkk. 1975. Sejarah Riau. Riau: UNRI. 

Posting Komentar

0 Komentar